CERITA PANAS
Jumat, 18 Juli 2014
Kenikmatan ngentot memek perawan
Malam
ini merupakan malam pertama D & L sebagai suami istri. Di kamar, D
& L mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang nyaman dan santai
dipakainya. Begitu rebah ke ranjang, keduanya langsung saling berpagut.
Saat itu Danny merasakan adanya hal yang aneh pada dirinya. Sepertinya
jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih keras. Semangat libidonya
menjadi sangat menyala-nyala. Nafsu birahinya menjadi demikian membara.
Malam itu mata Danny yang nampak menjadi merah seakan terbakar
menyaksikan Lia istrinya yang teramat sangat seksi. Saat menyaksikan
pengantinnya tergolek di ranjang, dia ingin secepatnya menggagahinya.
Menyetubuhinya.
Kemudian
dengan serta merta tanpa menunjukkan kelembutan atau sentuhan-sentuhan
awal, bahkan dengan cara agak kasar, dilucutinya pakaian tidur istrinya
Lia, kemudian juga pakaiannya sendiri. Perasaan yang menggebu-gebu ini
ternyata juga melanda Lia sendiri. Saat Danny melucuti pakaiannya,
dengan desahan yang keras Lia juga menunjukkan ketidaksabarannya.
Diraihnya tonjolan besar pada selangkangan Danny yang nampak menggunung.
Sebelum sempat Danny menelanjangi dirinya sendiri, di betotnya ******
Danny dari sarangnya. Langsung di kulumnya. Mereka, para pengantin ini
nampak dikuasai nafsu birahi yang sudah tidak dapat mereka kendalikan
sendiri. Mereka saling merangsek, saling mencengkeram dan meremas,
saling menjilat dan menyedoti, saling melampiaskan dendam birahinya.
Suasana riuh rendah oleh desah dan rintih pasangan ini sungguh sangat
erotis bagi siapapun yang mendengarnya.
Mungkinkah
hal itu disebabkan oleh suasana romantis villa mewah ini?. Suasana
romantis yang memilik kekuatan untuk mendongkrak libido mereka dengan
tajam sehingga nafsu birahi mereka sepertinya begitu terbakar. Nampak
Lia yang telah telanjang bulat menunjukkan buah dadanya yang sangat
ranum mengencang. Putingnya yang memerah mencuat keras tegak di bukit
ranum kencang itu, seakan menanti siapapun yang bersedia mengulum dan
menyedotinya. Sementara itu ****** Danny demikian pula. Darahnya telah
penuh terpompa pada urat-urat batangnya. ****** Danny ngaceng dengan
keras sekali. Urat-uratnya bertonjolan di sekeliling batang itu.
Kepalanya yang cukup besar berkilatan yang disebabkan darahnya menekan
keluar hingga membuat kulitnya tegang dan mengkilat. ****** itu terus
mengaduk-aduk wilayah selangkangan istrinya. Dia mencari lubang vagina
Lia yang juga sudah merekah kehausan menunggu ****** Danny untuk
menembusnya.
Pagutan,
ciuman, gigitan yang disertai erangan, desahan dan rintihan dari Danny
dan Lia saling bersambut. Keduanya benar-benar tenggelam dalam nafsu
birahi yang sangat tinggi.
?Ayyooo Dannyyy, masukkan tongkolmuuuu.. ayyooo Dann…?.
?Mana memiawmu sayangggg… tongkolku sudah tidak dapat tahan nihhh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuuuu… LIAAAAAA!
?Ayyooo Dannyyy, masukkan tongkolmuuuu.. ayyooo Dann…?.
?Mana memiawmu sayangggg… tongkolku sudah tidak dapat tahan nihhh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuuuu… LIAAAAAA!
Tak
pelak lagi, dengan penuh ketidak sabaran, mereka, Danny dan Lia ini
sepertinya telah dirasuki kegilaan birahi. Mereka nyaris seperti hewan,
yang melampiaskan nafsunya berdasarkan naluri hewaniahnya. Berbagai
obsesi seksual yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi dan tersimpan
dalam-dalam di sanubari masing-masing, tidak dapat tersembunyikan lagi
tumpah di malam pertama bulan madu mereka di Villa Forest Green yang
sangat romantis ini.
Ujung ****** Danny sudah tepat di bibir lubang vagina Lia ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras.
Ujung ****** Danny sudah tepat di bibir lubang vagina Lia ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras.
?Haaiiiii, yang di dalam kamarrr! Bukaa! Buka pintunyaa! Atau aku yang akan buka dengan paksa! Ayyyooooo bukkaa!?.
Amukan birahi seksual D & L yang sedang memuncak langsung runtuh. Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat. Mereka sama sekali tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini. Di villa mewah yang sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tidak menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Danny langsung mendekap istrinya yang nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan.
Kemudian menyusul gedoran lagi dan gedoran yang semakin kasar lagi. Dengan gemetar dan ketakutan yang hebat kedua pengantin pria dan wanita itu serta merta menarik selimut seakan dapat bersembunyi sambil menutupi ketelanjangannya.
Dan akhirnya terdengar tendangan-tendangan yang sangat kuat. Pintu kamar tidur itu jebol. Daun pintunya terbanting ke lantai dengan mengeluarkan suara yang sangat keras. Danny dan Lia menggigil. Mata mereka terpaku tajam ke arah lubang pintu yang telah jebol tebuka itu.
Amukan birahi seksual D & L yang sedang memuncak langsung runtuh. Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat. Mereka sama sekali tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini. Di villa mewah yang sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tidak menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Danny langsung mendekap istrinya yang nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan.
Kemudian menyusul gedoran lagi dan gedoran yang semakin kasar lagi. Dengan gemetar dan ketakutan yang hebat kedua pengantin pria dan wanita itu serta merta menarik selimut seakan dapat bersembunyi sambil menutupi ketelanjangannya.
Dan akhirnya terdengar tendangan-tendangan yang sangat kuat. Pintu kamar tidur itu jebol. Daun pintunya terbanting ke lantai dengan mengeluarkan suara yang sangat keras. Danny dan Lia menggigil. Mata mereka terpaku tajam ke arah lubang pintu yang telah jebol tebuka itu.
Mereka
melihat ada 2 orang bertopeng setengah telanjang kecuali cawat-cawat
mereka yang menutupi aurat mengayun-ayunkan kapak di tangannya. D & L
semakin ketakutan, menggigil gemetar. Kedua orang itu menutupi
kepalanya dengan semacam rajutan kaos gelap, persis seperti yang terjadi
di film-film kriminal atau peristiwa-peristiwa teror di TV. Yang nampak
hanya mata mereka yang beringas dan suara mereka yang terdengar keras,
kasar dan brutal.
?Ho, ho, ho, ha, ha, ha…, rupanya sepasang pengantin cantik dan tampan ini sedang bercumbu… uhhhh… Uhhh nikmatnya nihhh…?.
Kemudian salah satu dari mereka mendekat ke ranjang. Dengan kekuatan tangannya dia renggut selimut yang menutupi Danny dan Lia. Dengan sekali renggut selimut itu langsung terbuka dan tampaklah Danny dan Lia yang bugil saling berpelukan histeris. Langsung dilemparkannya selimut itu ke lantai.
Kemudian salah satu dari mereka mendekat ke ranjang. Dengan kekuatan tangannya dia renggut selimut yang menutupi Danny dan Lia. Dengan sekali renggut selimut itu langsung terbuka dan tampaklah Danny dan Lia yang bugil saling berpelukan histeris. Langsung dilemparkannya selimut itu ke lantai.
?Ampuuunnnnnnn
Paakk… Jangan diapa-apakan kamiii… ampunnnn.. a.. mpuunn …?, Lia
menangis dan gagap karena didera ketakutan yang amat sangat.
Seolah-olah tidak mendengar suara-suara iba tersebut, ketakutan maupun sikap protes dari Danny dan Lia, kedua orang itu langsung membuka kedoknya. Dan betapa terperanjatnya Danny dan Lia ketika melihat siapa kedua begundal itu.
Seolah-olah tidak mendengar suara-suara iba tersebut, ketakutan maupun sikap protes dari Danny dan Lia, kedua orang itu langsung membuka kedoknya. Dan betapa terperanjatnya Danny dan Lia ketika melihat siapa kedua begundal itu.
Mereka adalah Tory dan Pedro yang sebelumnya dianggap sangat santun dan menyenangkan oleh pasangan D & L ini.
Tanpa dapat dicegah lagi Danny yang dalam keadaan bugil langsung bangkit hendak mengamuk dan melawan kedua orang itu. Tapi dari penglihatan sepintas sudah jelas, Danny bukanlah lawan mereka berdua. Tubuh Tory dan Pedro yang kekar dan penuh otot bukan lawan Danny. Dengan mudah dia dilumpuhkan, tangan-tangan kuat Pedro meringkusnya kemudian kedua tangan dan kaki Danny diikat dan tubuhnya dibiarkan tergeletak di lantai.
Tanpa dapat dicegah lagi Danny yang dalam keadaan bugil langsung bangkit hendak mengamuk dan melawan kedua orang itu. Tapi dari penglihatan sepintas sudah jelas, Danny bukanlah lawan mereka berdua. Tubuh Tory dan Pedro yang kekar dan penuh otot bukan lawan Danny. Dengan mudah dia dilumpuhkan, tangan-tangan kuat Pedro meringkusnya kemudian kedua tangan dan kaki Danny diikat dan tubuhnya dibiarkan tergeletak di lantai.
Mereka
tidak mengacuhkan segala protes, hujatan dan caci maki Danny. Dengan
tertawa penuh kemenangan mereka merasa puas dengan lancarnya perbuatan
keji mereka. Selanjutnya Tory dan Pedro lebih tertarik untuk memusatkan
perhatian pada pengantinnya yang cantik, yang juga bugil dan tanpa daya
tergolek di ranjangnya. Permohonan ampun dan tangisan ketakutan penuh
pilu dari bibir mungil Lia sama sekali tidak menggetarkan hati para
begundal itu. Mungkin hati mereka memang telah mereka buang jauh-jauh.
Tangan-tangan
Tory dan Pedro tidak sabar lagi untuk menjamah tubuh cantik mulus Lia
itu. Tapi saat Pedro mendekat untuk meraih pahanya, tanpa dia duga kaki
Lia menendang matanya. Gelagapan dan kepedihan pada matanya membuat
Pedro terduduk sambil menutup mukanya. Melihat hal itu dengan sigap Tory
langsung merangkul Lia. Pengantin yang berontak dan berteriak-teriak
histeris ketakutan itu ditindihnya. Tubuh putih mulus telanjang itu
dipeluk dan diringkusnya tanpa banyak kesulitan, bahkan nampaknya Tory
ini sangat menikmati apa yang harus dia lakukan. Tangan kanan Lia
direnggutnya. Dia keluarkan tali dari kantongnya. Tangan itu diikatnya
kuat-kuat ke tiang bagian atas ranjang itu. Dan tangan kirinya kembali
direnggut untuk diikatkan ke tiang ranjang di bagian sebelah atas yang
lain.
Tentu
saja Lia yang dilanda ketakutan yang amat sangat langsung berontak dan
meronta seperti kuda betina yang liar. Kaki-kakinya menendang-nendang
apa saja yang ada di dekatnya. Tapi semua perlawanan itu hanya sia-sia.
Kaki-kaki itu, oleh Pedro yang sudah baik matanya direnggut dan
diikatkannya ke kaki ranjang bagian bawah kanan dan kiri.
Peristiwa itu sungguh menjadi penampakkan yang sangat erotis baginya. Lia, sang pengantin, bidadari yang mulus, dewi berkulit kuning putih tanpa cacat, perempuan jelita yang mengamuk dengan liar, melawan dua begundal setengah telanjang dengan tubuh hitamnya yang berkilat karena keringatnya. Para begundal brutal itu nampak kewalahan saat meringkus Lia.
Peristiwa itu sungguh menjadi penampakkan yang sangat erotis baginya. Lia, sang pengantin, bidadari yang mulus, dewi berkulit kuning putih tanpa cacat, perempuan jelita yang mengamuk dengan liar, melawan dua begundal setengah telanjang dengan tubuh hitamnya yang berkilat karena keringatnya. Para begundal brutal itu nampak kewalahan saat meringkus Lia.
Dengan
cara merangkulkan tangan-tangannya serta menekankan wajah-wajah mereka
sekenanya pada tubuh yang sangat merangsang birahi milik si jelita, Tory
dan Pedro memerlukan kerja keras sambil menikmati sensual tubuh Lia.
Akhirnya sang korban yang jelita itu benar-benar tak berdaya. Dan kini,
kaki dan tangan Lia telah terikat kuat-kuat pada ranjang pengantinnya.
Dan untuk keberhasilannya, para pendatang brutal itu langsung disuguhi
pemandangan yang sangat spektakuler, merangsang dan erotis sekali.
Tangan Lia yang terikat ke bagian atas kanan dan kiri ranjang membuat
ketiaknya yang indah nampak terbuka.
‘Uuhhh…
Akan kubenamkan hidungku ke lembah ketiakmu yang indah itu.. lidahku,
bibirku akan menjilati dan menyedotmu Liaaa…’, begitu begitu pikir
begundal-begundal tersebut. Dan paha Lia yang kini telah mengangkang
terbuka, memamerkan memiawnya yang ranum menggunung yang langsung
mendongkrak nafsu birahi kedua serigala lapar dan brutal itu. Keduanya
tercekat menyaksikan dengan penuh takjub kemaluan Lia yang ditutupi
bulu-bulu tipis merekah yang seakan menunggu jamahan tangan-tangan kasar
mereka atau jilatan lidah dan sedotan bibir tebal mereka atau bahkan
tusukan ******-****** kedua begundal brutal itu.
Tak
tahan menyaksikan tindakan brutal yang dilakukan Pedro dan Tory pada
istrinya, Danny berteriak-teriak dengan harapan ada orang lain yang
mendengarkannya di tengah hutan sepi itu. Ulah itu hanya jadi tertawaan
para begundal. Tory menyuruh Pedro untuk menyumpal mulut Danny dan
menyeretnya ke kamar sebelah. Pedro langsung bertelanjang melepas
cawatnya sendiri yang dekil dan pesing untuk di sumpalkan pada mulut
Danny. Tentu saja Danny jadi gelagapan panik menerima perlakuan kotor
Pedro itu. Tetapi mana dapat ia melawan dengan kaki dan tangannya yang
masih terikat erat-erat.
Dan
Tory juga langsung bertelanjang melepas cawatnya. Dia sumpalkan
cawatnya yang sama dekilnya ke mulut Lia yang langsung berkelojotan
karena jijik dan ingin muntah. Tetapi sia-sia pula. Dan akhirnya tanpa
daya pasangan D & L ini menjadi tawanan Pedro dan Tory. Dan tanpa
terhindarkan, Danny maupun Lia dihadapkan pada pemandangan yang selama
ini dianggapnya sangat tabu. Kedua orang ini menyaksikan ****** lelaki
lain, ****** Pedro dan Tory yang telah ngaceng berat. ******-******
mereka yang nampak tegak dan kaku itu sungguh luar biasa. Mengingatkan
pada pisang tanduk di sepanjang jalan Bogor. Besar dan panjangnya tak
kurang dari 20 cm dengan garis tengah sekitar 4,5 cm.
Bagi
seorang wanita semacam Lia, ****** sebesar itu membuat khayalannya
langsung melayang. Lia membayangkan bagaimana rasa pedih dan sakitnya
apabila ****** itu dipaksakan menembus memiawnya yang masih perawan.
Akankah hal itu akan terjadi pada dirinya yang hingga kini bahkan
suaminya pun belum pernah benar-benar menjamah memiawnya itu? Akankah
Pedro dan Tory mendahului Danny sebagai pemilik yang sah atas vaginanya
secara bergiliran memaksakan ******-****** mereka itu menembus
memiawnya? Lia sangat takut dan merasa ngeri dengan pikirannya yang
mengkhayal sejauh itu. Dia menggigil kemudian menutup matanya.
Sementara
itu bagi Danny, melihat Pedro dan Tory yang memiliki ****** sebesar dan
sepanjang itu rasa percaya dirinya langsung runtuh. Dia bayangkan
apabila istrinya sempat mereka paksa untuk menerima ****** mereka, dan
pada akhirnya Lia mendapatkan kenikmatan serta kepuasan dengan
******-****** sebesar itu, dapat dipastikan dia tidak mungkin mampu
mengungguli Pedro maupun Tory. Dan di belakang hari dapat dipastikan Lia
tidak akan pernah puas berhubungan seks dengan dirinya. Lia akan dengan
sebelah mata saja melayani dia sebagai suaminya.
Danny
sangat terpukul. Membayangkan istrinya Lia mendesah serta merintih
mendapatkan kenikmatan birahi dari Tory dan Pedro. Hatinya langsung
ciut.
?Yo, ambil minuman itu lagi. Kita buat mereka lebih galak lagi?, terdengar Tory menyuruh Pedro.
Kata-kata Tory itu menjadi pikiran Danny maupun Lia. Minuman apa itu? Bikin galak lagi? Apakah hal itu yang membuat mereka demikian panas birahinya saat memasuki peraduan setelah makan malam tadi? Mungkinkah Pedro dan Tory memasukkan obat perangsang seks pada makan malam mereka tadi?
?Yo, ambil minuman itu lagi. Kita buat mereka lebih galak lagi?, terdengar Tory menyuruh Pedro.
Kata-kata Tory itu menjadi pikiran Danny maupun Lia. Minuman apa itu? Bikin galak lagi? Apakah hal itu yang membuat mereka demikian panas birahinya saat memasuki peraduan setelah makan malam tadi? Mungkinkah Pedro dan Tory memasukkan obat perangsang seks pada makan malam mereka tadi?
Tak
lama kemudian Pedro balik dengan sebotol cairan berwarna kuning bening.
Pertama-tama pada Danny. Tangan Tory memegangi kepala dan membuka
sumpal mulut Danny yang langsung panik ketakutan. Kemudian Pedro
menjejalkan mulut botol ke mulut Danny dan memaksakan untuk minum.
Ketika Danny berusaha menolak dengan cara memalingkan wajahnya, Tory
memeganginya dan membekap hidungnya. Karena tersedak Danny terpaksa
menelan cairan dari botol itu. Dia merasakan asin dan pesing.
Jangan-jangan air kencing mereka ini. Dengan cara yang sama cairan itu
juga dijejalkan pula pada mulut Lia.
?Nahhhh,
bapak dan ibu, jangan khawatir… Itu adalah minuman demi kesehatan pak
Danny yang tampan dan bu Lia yang jelita…, sebentar lagi bapak dan ibu
pasti akan semakin segar, ha, ha, ha…?.
Beberapa saat kemudian, pasangan D & L merasakan dunia seakan berputar-putar. Pandangan matanya mengabur. Jantungnya berdegup lebih kencang. Lia merasakan darahnya memanas. Dan gambaran ******-****** Pedro serta Tory yang luar biasa itu mendekat.
Beberapa saat kemudian, pasangan D & L merasakan dunia seakan berputar-putar. Pandangan matanya mengabur. Jantungnya berdegup lebih kencang. Lia merasakan darahnya memanas. Dan gambaran ******-****** Pedro serta Tory yang luar biasa itu mendekat.
Dia
merasakan seakan-akan ujung-ujung ****** mereka menyentuh gerbang bibir
vaginanya. Dia merasakan rangsangan birahi yang hebat, seperti halnya
saat ****** Danny suaminya menyentuh vaginanya. Sementara itu Danny juga
merasakan darahnya yang memanas. Nafsu birahinya meledak-ledak. Ingin
rasanya menjilati selangkangan Lia istrinya yang saat ini terbuka
memamerkan nonoknya di atas ranjang pengantinnya. Ingin rasanya dapat
secepatnya terbebas dari para begundal itu untuk kemudian melanjutkan
apa yang tadi telah hampir dilakukannya, tongkolnya menembus memiaw
istrinya.
?Lemparkan Danny ke kamar sebelah?.
Si Pedro kembali melaksanakan perintah Tory. Dengan mulutnya yang kembali tersumpal cawat Pedro dan perasaannya yang mabuk dan ingin muntah akibat minuman yang dijejalkan tadi, Danny diseret ke kamar sebelah. Kemudian pintunya dikunci. Danny sangat penasaran, kesal dan marah. Semula dia berharap dapat tetap sekamar dengan istrinya. Setidak-tidaknya matanya masih dapat menikmati tubuh bugil istrinya yang terikat di ranjang, sehingga ledakan birahinya yang kini melanda nafsunya dapat sedikit tersalurkan.
Si Pedro kembali melaksanakan perintah Tory. Dengan mulutnya yang kembali tersumpal cawat Pedro dan perasaannya yang mabuk dan ingin muntah akibat minuman yang dijejalkan tadi, Danny diseret ke kamar sebelah. Kemudian pintunya dikunci. Danny sangat penasaran, kesal dan marah. Semula dia berharap dapat tetap sekamar dengan istrinya. Setidak-tidaknya matanya masih dapat menikmati tubuh bugil istrinya yang terikat di ranjang, sehingga ledakan birahinya yang kini melanda nafsunya dapat sedikit tersalurkan.
Di
lain pihak Lia yang ditinggalkan suaminya tak dapat menghindarkan
pandangannya pada ****** Pedro dan Tory yang nampak sedemikian besar dan
panjangnya. Batang ******-****** yang dikelilingi urat-urat itu semakin
nampak perkasa. Kepala helmnya yang yang tumpul membulat berkilatan
kena cahaya lampu kamar. Lia sendiri belum pernah menyaksikan secara
langsung ****** lelaki dewasa seperti yang dilihatnya sekarang ini. Dia
hanya ingat bahwa pernah melihat ******-****** sebesar itu dari VCD
porno yang disaksikan ramai-ramai bersama teman-temannya pada saat jam
istirahat di kantor.
Sewaktu
vaginanya siap ditembus ****** Danny dia hanya merasakan ujung ******
yang hangat merangsang bibir-bibir vaginanya. Dia ingat betapa nikmatnya
saat birahinya menjadi demikian memuncak yang disebabkan ujung ******
Danny itu. Dia merasakan keinginannya yang sangat kuat agar Danny
secepatnya menembus kemaluannya. Bibir vaginanya sangat kehausan untuk
melahap batang ****** Danny.
Tapi kini Danny tidak lagi berada di kamar ini. Yang nampak kini adalah Pedro dan Tory yang sama-sama telah berbugil ria. Dan ******-****** mereka itu, kenapa mata Lia dibuatnya sangat terpesona? ******-****** itu tegak ngaceng dengan kokoh dan tegarnya.
Tapi kini Danny tidak lagi berada di kamar ini. Yang nampak kini adalah Pedro dan Tory yang sama-sama telah berbugil ria. Dan ******-****** mereka itu, kenapa mata Lia dibuatnya sangat terpesona? ******-****** itu tegak ngaceng dengan kokoh dan tegarnya.
Lia
berpikir akankah mereka juga akan seperti Danny? Menempelkan atau
menusukkan ******-****** yang luar biasa itu ke bibir vaginanya? Akankah
dia akan membiarkan dan menerima kehadiran ******-****** yang bukan
milik suaminya itu? Akankah dia mampu menerima serangan badai nafsu
serigala para brutal itu? Dari celah matanya yang basah karena air mata,
Lia melirik ke ****** para brutal tersebut.
Tiba-tiba
perasaan seperti yang terjadi pada saat bersama Danny memasuki kamar
usai makan malam tadi melintas. Rasa ingin, ingin, ingin, ingin,
keinginan yang kuat, keinginan yang meledak-ledak, ingin Danny
melanjutkan tusukan tongkolnya ke lubang kemaluannya, melanjutkan
kenikmatan birahi yang mulai memuncak. Mungkinkah itu? Bagaimana
mungkin?
Yang
nampak jelas siap melakukan itu justru Tory dan Pedro yang telah
telanjang bulat dengan ******-****** keras besar panjang mereka itu.
Mereka sangat siap dan sangat mungkin memperkosanya. Ooohh…, alangkah
ngerinyaaa…
Lia berusaha menepis perasaan yang sangat menakutkan itu. Dipalingkan wajahnya dari ******-****** itu. Sungguh ngeri membayangkan ****** sebesar dan sepanjang milik para brutal itu menembus memiawnya. Apabila hal itu terjadi pasti akan merobek-robek vaginanya.
Lia berusaha menepis perasaan yang sangat menakutkan itu. Dipalingkan wajahnya dari ******-****** itu. Sungguh ngeri membayangkan ****** sebesar dan sepanjang milik para brutal itu menembus memiawnya. Apabila hal itu terjadi pasti akan merobek-robek vaginanya.
Tetapi
darah dan jantung ini? Mengapa darah dan jantung Lia terus berdegup
kencang sejak makan malam tadi seakan ada yang terus merangsangnya. Dan
kini bahkan semakin kencang serta kuat memacu darahnya, setelah Tory dan
Pedro mencekoki cairan kuning bening tadi. Apakah itu obat perangsang
seksual yang membuat dirinya tidak dapat melepaskan pandangannya atau
memalingkan wajahnya dari ******-****** Pedro dan Tory itu? Ah, sangat
mungkin…! Bukankah Pedro dan Tory nampak jelas telah mempersiapkan semua
rencana jahatnya ini. Topeng itu, kampak itu, gedoran di pintu itu.
Semua merupakan bagian rencana jahatnya. Dengan memberikan obat
perangsang birahi seksual, korbannya akan cepat takluk dan mengikuti
kemauan bejat seksualnya. Korbannya akan patuh untuk menjadi budak
seksualnya.
Lia
akan cepat menyerah dan sangat kehausan untuk secepatnya menikmati
******-****** para pejantan itu. Ahhh…, degup jantung ini…, kenapa jadi
sulit sekali, membuang keinginannya untuk tidak kembali melirik
******-****** pejantan itu.
‘Oohh.., jangannnn… jangannnn…!’
Lia memejamkan matanya untuk menghapus semua lintasan pikirannya, wajahnya memucat, kemudian memerah, kemudian kembali memucat, kembali memerah. Bayangan akan ******-****** besar itu jadi berbalik sangat menggairahkannya.
‘Oohh.., jangannnn… jangannnn…!’
Lia memejamkan matanya untuk menghapus semua lintasan pikirannya, wajahnya memucat, kemudian memerah, kemudian kembali memucat, kembali memerah. Bayangan akan ******-****** besar itu jadi berbalik sangat menggairahkannya.
Perasaan
ngeri, takut, cemas tetapi tidak sepenuhnya ingin benar-benar
menghindar, rasa birahi yang terus mengejarnyaa, dirasuki dengan penuh
kebimbangan dan keraguan, semuanya serba bercampur aduk. Lia dilanda
kebingungan yang amat sangat. Khayalan-khayalan liarnya yang terus
memburu tidak dapat dilenyapkan dari kepalanya. Detak dan degup
jantungnya juga tak dapat dikendalikannya.
‘Akankah…, Ohhh…, ampuni aku Danny…, Dannyyyyyyy…, ampuni akuuuu…, aku tidak mampu mengambil keputusan…, tolongggg…, aku membutuhkan kk… kkaamuuu… uuuu.. uuuhhhh…’.
Dan memang, keputusan akhirnya bukanlah di tangan Lia.
‘Akankah…, Ohhh…, ampuni aku Danny…, Dannyyyyyyy…, ampuni akuuuu…, aku tidak mampu mengambil keputusan…, tolongggg…, aku membutuhkan kk… kkaamuuu… uuuu.. uuuhhhh…’.
Dan memang, keputusan akhirnya bukanlah di tangan Lia.
Begitu
terlempar ke kamar buangannya, pertama-tama yang dicari Danny adalah
lubang. Lubang atau celah di dinding, dimana dia dapat mengintip
istrinya yang telanjang. Pengaruh minuman yang dijejalkan Pedro dan Tory
tadi membuat libido Danny terangsang dengan hebat, saat ini yang
diperlukan Danny adalah dapat mengintip istrinya telanjang, dia ingin
melakukan mastubasi.
Ternyata
dia dapatkan, kamar villa yang seluruhnya dibuat dari kayu dan balok
itu memberikan celah di antara dua baloknya. Celah itu cukup longgar.
Danny serta merta beringsut ke celah itu. Tetapi ternyata celah itu
terlampau tinggi di atas kepala Danny. Dengan ikatan tali pada tangan
dan kakinya Danny kesulitan untuk berdiri maupun sekedar jongkok.
Sementara celah itu dapat dia raih setidak-tidaknya dengan berjongkok.
Dia mengamati sekeliling kamar itu.
Dari
kamar sebelah terdengar suara riuh. Terdengar ‘hah, huh, hah, huh…’,
suara istrinya yang mulutnya terbungkam celana dalam dekil milik Tory.
Danny jadi panik, dia memastikan sesuatu telah terjadi pada istrinya.
Dia gulingkan tubuhnya ke sebuah kotak kayu di pojok kamar itu. Dia coba
menendang kotak itu dengan kaki terikat agar dapat didekatkan ke
dinding. Berhasil. Danny kembali berguling. Memerlukan perjuangan cukup
panjang untuk dapat memanjat kotak itu dengan kaki dan tangan yang
terikat.
Sementara
itu suara istrinya sudah terdengar berbeda, dalam waktu singkat suara
itu telah berubah menjadi desahan dan rintihan, disamping juga terdengar
suara Tory atau Pedro atau kedua-duanya. Mereka terdengar berbicara
dalam bahasa daerah mereka yang Danny sama sekali tidak memahami
artinya, tetapi Danny memastikan mereka sedang melakukan sesuatu hal
yang tidak senonoh pada Lia istrinya yang kini terikat dan telanjang
bulat di depan mereka.
Akhirnya
setelah berjuang keras untuk memanjat kotak kayu itu, dalam keadaan
terikat tangan dan kakinya mata Danny kini dapat menyaksikan Tory sedang
memeluk dan menciumi kedua payudara istrinya. Dan Pedro dari arah lain
sedang memeluk paha Lia serta wajahnya tenggelam dalam selangkangannya.
Nampak kepala Pedro naik turun menjilati arah kemaluan Lia. Seketika itu
juga seolah-olah ada sejuta petir menghantam kesadaran Danny. Dia
langsung terjungkal ke lantai. Danny kehilangan kesadarannya. Tetapi
hanya sesaat, dalam keadaan terkapar di lantai nampak kelopak mata Danny
yang lelah pelan-pelan terbuka. dan kemudian dengan cepat dia bangkit
dan kembali berusaha merangkak ke kotak itu untuk mengintip celah di
dinding itu.
Bermenit-menit
dia lalui untuk mampu kembali pada posisi dimana dia dapat mengintip
kamar istrinya yang saat ini sedang digarap oleh Tory dan Pedro. Suara
erangan yang telah berganti menjadi suara desahan dan rintihan istrinya
terus terdengar, juga pembicaraan antara Tory dan Pedro yang tidak
diketahui maknanya oleh Danny terdengar semakin cepat bersahut-sahutan.
Sementara
itu telah terjadi hal yang aneh pada diri Danny, mungkin pengaruh dari
makanan dan minuman yang dicekokkan oleh para begundal itu ke mulutnya
atau setelah menyaksikan istrinya dikerjai secara brutal oleh dua
begundal itu sehingga membuatnya terjungkal ke lantai, atau mungkin juga
campuran dari keduanya. Saat dia kembali menaiki kotak itu, dorongan
keinginannya sudah berganti. Dia tidak lagi ingin mengintip untuk
melihat istrinya yang telanjang atau untuk menyaksikan bagaimana
istrinya dengan gigih melawan kedua brutal itu.
Yang
diinginkannya sekarang adalah menyaksikan bagaimana kedua brutal itu
yang dengan ****** besar dan panjangnya dapat memberikan kenikmatan
erotik dan sensasional kepada istrinya. Sekarang dia ingin menikmati
pemandangan bagaimana istrinya dient*t oleh para begundal itu. Danny
kembali ngaceng berat. Lebih sensasional daripada sebelumnya. Dia ingin
secepatnya menyalurkan syahwatnya. Dia ingin melakukan masturbasi sambil
menonton istrinya dient*t para berandal-berandal di kamar sebelah itu.
Inikah
yang disebut ?shock terapy?? Sebuah peristiwa yang sangat luar biasa
yang mampu dengan seketika mengubah mental, selera, cara pandang ataupun
keyakinan seseorang. Yang mampu mengubah Danny, dari ketakutan serta
kekhawatiran yang mencekam, menjadi sesuatu yang justru dia harapkan
untuk terjadi? Dari yang awalnya berkeinginan untuk menolong menjadi
keinginan untuk ikut menikmati?
Dan
itulah yang terjadi. Saat matanya kembali di lubang intipan tersebut,
kini dia menyaksikan bahwa telah terjadi perkembangan. Nampak sumpal
pada mulut istrinya sudah dilepas, walaupun pada tangan dan kakinya
masih terikat pada ranjang itu. Nampak istrinya menggeliat-geliat tetapi
tidak berteriak menolak. Yang terdengar justru desahan dan rintihan
dari mulut Lia yang terdengar penuh kenikmatan, bahkan mata Lia nampak
memandang Tory dengan tongkolnya yang sangat besar, sedang memompa
kemaluannya.
Danny
melihat bagaimana pinggul istrinya sedemikian bergairahnya menjemput
keluar masuknya ****** Tory yang kelewat besar itu. Adakah Lia juga
telah diterkam obat perangsang itu, sehingga membuatnya kini menyerah
dalam jarahan seksual para begundal itu?
‘Ah masa bodohlah, aku sendiri punya kebutuhan pula, birahiku ooohhhhh, menyaksikan istriku dient*t para begundal itu’, demikian pikir Danny.
‘Ah masa bodohlah, aku sendiri punya kebutuhan pula, birahiku ooohhhhh, menyaksikan istriku dient*t para begundal itu’, demikian pikir Danny.
Jarak
lubang dengan posisi istrinya yang terikat ini tidak lebih dari 1 meter
di kamar yang relatif sempit itu. Danny dapat dengan nyata menyaksikan
mengkilatnya batang ****** Tory yang keluar masuk menembus memiaw Lia
istrinya. Tanpa dapat dicegah, air liur Danny menetes saat melihat
****** Tory yang luar biasa itu. Telinganya yang menangkap suara desahan
dan rintihan istrinya yang tidak lagi terbungkam itu sebagai pertanda
kenikmatan yang sedang melanda istrinya. Danny tersenyum. tongkolnya
yang ngaceng dipepetkannya ke dinding. Pelan-pelan digosok-gosokkannya.
Duhh…, nikmatnyaaaa…
Dari
lubang ingintipan itu, Danny melihat Tory semakin cepat memompa. Makin
cepat, makin cepat, cepat, cepat… Dan, ‘AACCHH…’, terdengar teriakan
Tory… Dan sperma Danny muncrat berbarengan dengan air mani Tory yang
tumpah-ruah di kemaluan dan tubuh istrinya Lia. Itulah kepuasan seksual
pertama sejak perkawinannya dengan Lia istrinya, pada hari-hari yang
seharusnya penuh bahagia, pada hari-hari bulan madunya.
Kemudian
Danny lemah terduduk. Tetapi tidak lama. Dia mendengar kembali
suara-suara desahan dan rintihan dari kamar sebelah, Danny kembali
mengintip. Kini dia melihat Pedro menindih tubuh istrinya. Dia melumat
leher, ketiak dan dada Lia. Sementara tangan kanannya memegang
tongkolnya yang bukan main indahnya di mata Danny kini, dan tangan
kirinya memeluk pinggul Lia untuk menempatkan lubang kemaluannya persis
di ujung tongkolnya. Dan yang menjadi sasaran birahi Danny sekarang
adalah menyaksikan istrinya Lia menggeliat-geliatkan pinggulnya menahan
kenikmatan pada saat vaginanya melahap ujung ****** Pedro. Tubuhnya
dicekal oleh otot-otot lengan Pedro. Dan vagina Lia dengan penuh
kepasrahan menerima tembusan dan tusukan nikmat dari begundal brutal
itu.
Mata
Danny melotot melihat adegan-adegan itu. tongkolnya kembali bangkit
ngaceng. Obat perangsang yang dicekokkan padanya membuat tongkolnya
tidak dapat tidur. Dan kembali dinding kamarnya menerima gosokan ******
Danny. Dan keadaan Lia sendiri, tak terhindarkan lagi, kebrutalan para
begundal itu mulai menjadi, Lia menyaksikan wajah Tory langsung
tenggelam, dia rasakan sedotan bibir tebal dan jilatan-jialatan lidah
kasarnya yang merambahi ketiak, leher, dadanya…
Dia
rasakan bagaimana bibir Tory mencaplok kedua payudaranya. Lidahnya
menari-nari pada putingnya. Gigitan kecil tetapi terasa sangat kasar
membuat putingnya menjadi perih. Tetapi yang dia rasakan sangat aneh
adalah…, perasaan ngeri, takut dan cemas itu, mengapa pupus, ternyata
pupus, mengapa yang hadir kini justru rasa haus yang amat sangat. Dia
diserang rasa kehausan yang amat sangat. Ingin sekali dia mendapatkan
air untuk tenggorokannya. Ingin sekali, ingin sekali. Dia sangat
menantikan Tory mengangkat celana pesingnya yang membungkam mulutnya.
Dia sangat menantikan bibir tebal Tory melumat bibirnya. Dia ingin
sekali meminum ludah Tory langsung dari mulutnya.
‘Oohhhh Toryi tolooong… akuuu hauss…, tolong Toryii, tolongggg…’.
Dan kehausan itu semakin menjadi ketika dilihatnya Pedro menyusul menenggelamkan wajahnya ke selangkangannya. Lidah Pedro yang juga kuat dan kasar itu langsung menjilat seluruh bibir kemaluannya. Langsung membor lubang vaginanya.
Untung saja Tory tahu…, Tory yang telah 55 tahun itu tahu reaksi perempuan yang kehausan saat menerima jilatan, sedotan, sentuhan lidah maupun bibir atau sodokan ******. Dia tahu bagaimana desakan birahi akan membuat tenggorokannya mengering dan seorang perempuan akan meminta agar secepatnya dilumat bibirnya untuk dapat menyedot ludah lelaki yang menyetubuhinya dan secepatnya kemaluannya ditembus ****** besarnya.
‘Oohhhh Toryi tolooong… akuuu hauss…, tolong Toryii, tolongggg…’.
Dan kehausan itu semakin menjadi ketika dilihatnya Pedro menyusul menenggelamkan wajahnya ke selangkangannya. Lidah Pedro yang juga kuat dan kasar itu langsung menjilat seluruh bibir kemaluannya. Langsung membor lubang vaginanya.
Untung saja Tory tahu…, Tory yang telah 55 tahun itu tahu reaksi perempuan yang kehausan saat menerima jilatan, sedotan, sentuhan lidah maupun bibir atau sodokan ******. Dia tahu bagaimana desakan birahi akan membuat tenggorokannya mengering dan seorang perempuan akan meminta agar secepatnya dilumat bibirnya untuk dapat menyedot ludah lelaki yang menyetubuhinya dan secepatnya kemaluannya ditembus ****** besarnya.
Tory
yang sangat berpengalaman itu serta merta meraih celana dalamnya yang
sejak tadi disumpalkan pada mulut Lia. Kemudian secepat kilat bibirnya
melumat bibir sensual pengantin cantik itu. Dan serta merta, Lia
langsung menyambutnya dengan penuh kelahapan birahinya. Dia dengan
histeris menyedot ludah Tory. Bahkan dari bibirnya juga keluar
bisikan-bisikan kehausannya.
?Pak Toryi, ayyooo, Lia udah tidakk tahannn…, ayyooo Pak Toryi…, Lia udah pengin ****** Pak Tory ituu…, ayoooo Pak Toryiii …?.
?Pak Toryi, ayyooo, Lia udah tidakk tahannn…, ayyooo Pak Toryi…, Lia udah pengin ****** Pak Tory ituu…, ayoooo Pak Toryiii …?.
Tory
tahu bahwa Lia sedang dalam keadaan tersiksa oleh deraan nafsu
birahinya sendiri, dia tolak Pedro dari keasyikannya melumati kemaluan
Lia, kemudian dirabanya kemaluan indah itu. Cairan birahinya sudah
membanjir. Dan Tory dengan cepat mengambil posisi. Dia kangkangkan
selangkangan Lia, untuk kemudian dia menempatkan tongkolnya di antara
selangkangan Lia itu. Diarahkannya ****** itu langsung ke lubang vagina
Lia, yang telah sangat kehausan menunggunya.
Karena
Lia masih perawan, sejago-jagonya Tory tetap saja segalanya masih harus
diusahakan dengan keras. ****** itu setiap kali meleset dari targetnya.
Mungkin licin. Beberapa kali Tory merasa tongkolnya sudah tepat berada
di mulut vagina Lia, meleset lagi. Dan saat berhasil tembus, Lia
berteriak kesakitan, dan Tory melihat darah keperawanan Lia mengalir
dari bibir vaginanya. Selaput perawan Lia telah robek. Kemaluan Lia
sudah berhasil ditembus ****** Tory. Kemudian Tory mulai memompa.
Pelan…, pelan…, pelan…, tetapi Lia sendiri yang sudah sangat kegatalan
ingin lebih cepat… Dan Tory menurut untuk mempercepat…
Dari
balik kamar, Danny ternyata ikut menyaksikan saat-saat itu. Hingga dia
saksikan bagaimana Tory memuntahkan bermili-mililiter air maninya ke
dalam memiaw istrinya Lia itu. Dan dalam kesempatan itu, Danny juga
menyalurkan birahinya hingga spermanya menyemprot dinding tempatnya
mengintip istrinya menikmati genjotan Tory.
Sungguh
suatu pengalaman yang sangat dahsyat bagi perawan seperti Lia ini.
Seumur-umur baru kali inilah dia merasakan nikmatnya senggama. Saat Tory
melepas spermanya tumpah di dalam vaginanya, Lia pun mendapatkan
orgasme pertamanya. ****** Tory masih berada di dalam lubang vaginanya
saat Pedro datang. Dia menepuk punggung Tory, mengisyaratkan meminta
‘jatah’nya.
Lia
menatap kehadiran Pedro dengan pandangan penuh gairah dan birahi.
Orgasme yang baru saja diraihnya bersama Tory belum menghabiskan
semangat libidonya. Kegatalan birahi pada kemaluannya masih menuntut
gesekan batang-batang penuh kejantanan dari para pecundang ini. Dan
begitu Pedro datang serta langsung menembakkan rudalnya pada memiaw Lia,
ditariknya tubuh Pedro. Dia ingin Pedro ******* nonoknya dengan bibir
tebal Pedro tetap melumat bibirnya. Dia ingin menguras ludah dari mulut
Pedro. Dia ingin mendengarkan desah dan rintih Pedro yang merasa
kelimpungan oleh jepitan vaginanya langsung di telinganya.
Dia
ingin hidungnya mengendus seluruh keringat yang keluar dari tubuh
Pedro. Dia ingin Pedro melumat ketiaknya, payudara dan putingnya. Kini
Lia telah menjadi kuda betina yang binal. Dia tidak lagi memikirkan
Danny. Dia hanya ingin Danny bergabung dalam kenikmatan bersama ini. Dia
ingin Danny menerima kenyataan dunia ini. Dia ingin Danny untuk tetap
setia dan menurut saja pada dewa-dewa jantan yang begundal dan brutal
ini. Lia berkeyakinan kedua brandal begundal brutal ini adalah dewa-dewa
jantan yang membawa sejuta kenikmatan. Danny harus patuh dan tunduk
pada mereka.
Sementara itu di kamar lain…
Danny kini menyadari bahwa Pedro dan Tory telah memberikan kenikmatan tak terhingga pada Lia istrinya. Dia berfikir sederhana, kalau ******-****** Pedro dan Tory itu nikmat bagi Lia yang dicintainya, tentunya akan nikmat pula bagi Danny yang mencintainya khan? Suatu logika yang sangat rasional. Kalau Lia meminum dengan rasa segar ludah Pedro maupun Tory, tentunya ludah itu juga akan menyegarkan bagi Danny khan? Dan pada akhirnya semua bagian tubuh Pedro maupun Tory mestinya nikmat dan layak untuk dinikmati semuanya khan?
Danny kini menyadari bahwa Pedro dan Tory telah memberikan kenikmatan tak terhingga pada Lia istrinya. Dia berfikir sederhana, kalau ******-****** Pedro dan Tory itu nikmat bagi Lia yang dicintainya, tentunya akan nikmat pula bagi Danny yang mencintainya khan? Suatu logika yang sangat rasional. Kalau Lia meminum dengan rasa segar ludah Pedro maupun Tory, tentunya ludah itu juga akan menyegarkan bagi Danny khan? Dan pada akhirnya semua bagian tubuh Pedro maupun Tory mestinya nikmat dan layak untuk dinikmati semuanya khan?
Kini ganti Danny yang diserang rasa haus…
Tiba-tiba terdengar kunci kamar itu dibuka oleh seseorang. Nampak Pedro dan Tory masuk dan memeriksa wajah Danny. Kemudian dia periksa pula tongkolnya. Mereka tersenyum. Kemudian Pedro dan Tory memeriksa dinding di dekat kotak kayu dimana Danny tadi mengintip. Diamatinya dinding itu. Dan saat ditemukannya sperma Danny yang masih meleleh pada dinding, kembali Pedro dan Tory tersenyum puas. Danny berharap sumpal mulutnya dilepaskan seperti halnya Lia istrinya.
Tiba-tiba terdengar kunci kamar itu dibuka oleh seseorang. Nampak Pedro dan Tory masuk dan memeriksa wajah Danny. Kemudian dia periksa pula tongkolnya. Mereka tersenyum. Kemudian Pedro dan Tory memeriksa dinding di dekat kotak kayu dimana Danny tadi mengintip. Diamatinya dinding itu. Dan saat ditemukannya sperma Danny yang masih meleleh pada dinding, kembali Pedro dan Tory tersenyum puas. Danny berharap sumpal mulutnya dilepaskan seperti halnya Lia istrinya.
Tapi ternyata tidak. Kedua begundal itu kini menyodorkan ****** mereka ke wajahnya.
‘Ooohh…, mereka hendak membuang air kencingnya ke wajahku’, pikir Danny.
Danny menunggunya dengan perasaan penuh birahi. Dia amati ****** Tory yang ujungnya bulat seperti jamur merang. Lubang kencingnya menganga lebar. Dan Ujung ****** Pedro nampak agak belang. Kulupnya masih membungkus, tanda bahwa dia belum ngaceng sempurna.
‘Ooohh…, mereka hendak membuang air kencingnya ke wajahku’, pikir Danny.
Danny menunggunya dengan perasaan penuh birahi. Dia amati ****** Tory yang ujungnya bulat seperti jamur merang. Lubang kencingnya menganga lebar. Dan Ujung ****** Pedro nampak agak belang. Kulupnya masih membungkus, tanda bahwa dia belum ngaceng sempurna.
Dan
akhirnya, seerrr… dan seeerrrrr…, kencing Tory dan Pedro langsung
mengguyur wajah Danny. Celana dalam Pedro itu ternyata langsung menyerap
cairan kuning itu. Di dalam mulutnya, Danny merasakan hangat air
kencing mereka berdua. Dia berusaha menelannya sebanyak mungkin. Inilah
obat haus bagi Danny. Sedemikian banyaknya kencing Pedro dan Tory
sehingga membuat Danny tampak seperti mandi. Seluruh tubuhnya basah
kuyup oleh air kencing mereka. Bau pesing air kencing itu seakan-akan
menjadi bau sedap bagi Danny yang sedang horny.
Setelah
selesai, Pedro mengambil celana dalam yang menyumpal pada mulut Danny.
Danny lega. Akhirnya rahangnya dapat beristirahat setelah sekitar 4 jam
menganga. Tetapi ternya urusan masih belum selesai. Pedro memerintahkan
Danny untuk membuka mulutnya lagi. Diperasnya air kencing Pedro dan Tory
yang terserap dalam celana dalam Pedro itu ke mulut Danny. Dan tanpa
disuruh lagi Danny langsung menjilatinya.
Kemudian Tory berbicara.
?Kamu sekarang jadi budakku. Tahu?!?.
Danny seakan mendengar berita gembira. Dia mengangguk angguk senang. Kemudian Pedro menuntun menuju kamar dimana Lia masih terikat di ranjangnya.
?Hai, pelayanku, budakku, anjingku… Bersihkan nonok istrimu dari peju-peju (sperma) kami yang tertinggal di dalamnya. Kamu sedot dengan mulutmu sampai bersih. Cepat?.
?Kamu sekarang jadi budakku. Tahu?!?.
Danny seakan mendengar berita gembira. Dia mengangguk angguk senang. Kemudian Pedro menuntun menuju kamar dimana Lia masih terikat di ranjangnya.
?Hai, pelayanku, budakku, anjingku… Bersihkan nonok istrimu dari peju-peju (sperma) kami yang tertinggal di dalamnya. Kamu sedot dengan mulutmu sampai bersih. Cepat?.
Ternyata
Tory dan Pedro ini benar-benar seorang ahli kejiwaan yang hebat. Mereka
pakar sekali dalam hal mengubah, merusak dab menghancurkan mental orang
lain. Dan tampak sekarang…, Danny telah tercuci otaknya menjadi budak
yang penurut dan ****** yang siap menunggu perintah tuannya. Dia siap
untuk melakukan apapun, termasuk minum air kencing mereka atau bahkan
lebih dari itu. Tidak ada lagi rasa tabu, jijik, jorok bagi para budak
mereka.
Lia
juga telah diubah sebagai budak seksnya. Pasangan itu akhirnya kembali
seperti halnya yang diharapkan oleh para tamu dalam acara pesta kemarin
siang, ?Semoga Danny dan Lia selalu saling melengkapi?. Dengan karakter
baru setelah melalui garapan Tory dan Pedro, pasangan Danny dan Lia
tetap saling melengkapi. Setidak-tidaknya di depan para berandal brutal
itu.
Dan
kini Danny merangkak di lantai menuju tepian ranjang. Dia datangi nonok
Lia yang masih basah penuh sperma yang meleleh dari lubang vaginanya.
Danny harus membersihkan dengan lidahnya. Dia dekatkan bibirnya menuju
vagina yang penuh lelehan sperma Pedro dan Tory itu. Lidahnya menjilati
dan bibirnya langsung menyedotnya hingga nonok Lia kembali kosong.
Sejak
kehadiran Danny kembali ke kamarnya dan kemudian menjilati kemaluannya
dari sisa-sisa sperma yang dibuang Tory dan Pedro ke dalam vaginanya,
Lia hanya dapat menyaksikan dengan diam. Pandangannya pada Danny sudah
hambar. Bukannya karena Danny tidak dapat menyelamatkan dia saat-saat
menderita. Tetapi Lia kini yakin bahwa Danny tidak mungkin dapat
memberikan kenikmatan ranjang macam Pedro dan Tory. Danny tidak akan
mampu merangsang birahinya untuk meraih orgasmenya. Dan di mata Lia
kini, Danny memang hanya pantas menjadi budak atau ****** yang menjilati
sperma buangan tuannya.
Semua
yang dilakukan Danny sepenuhnya berada dalam pengawasan Pedro dan Tory.
Mereka puas melihat Danny. Mereka juga puas melihat Lia. Kini tali-tali
mereka akan dilepaskan. Pedro dan Tory yakin bahwa Danny dan Lia
sekarang bukan lagi Danny dan Lia pada 4 jam yang lalu.
?Tadi saat kalian datang, kami sepenuhnya melayani kalian. Sekarang kamu menjadi pelayan-pelayan kami, menjadi budak-budak kami, menjadi ******-****** yang setia pada kami. Dengar, kami akan bermurah hati melepaskan tali kalian. Agar kalian selalu siap menjalankan perintah kami berdua?.
?Tadi saat kalian datang, kami sepenuhnya melayani kalian. Sekarang kamu menjadi pelayan-pelayan kami, menjadi budak-budak kami, menjadi ******-****** yang setia pada kami. Dengar, kami akan bermurah hati melepaskan tali kalian. Agar kalian selalu siap menjalankan perintah kami berdua?.
Kemudian
tali-tali mereka dilepaskan. Tory memerintahkan keduanya untuk mandi
dan berganti pakaian. Pedro dan Tory akan menunggu mereka untuk makan
malam di teras kebun. Tempat itu sengaja dipilih karena malam ini adalah
malam purnama. Danny dan Lia akan disuguhi pemandangan malam yang
sangat indah. Tory membisikkan kepada Danny dan Lia, bahwa dia telah
memasak makanan kesukaan mereka. Sebelum meninggalkan pasangan itu,
Pedro dan Tory menyampaikan selamat malam dengan sangat santun.
Ngentot memek tante Wulan
Tante
mulan terus mengelus-elus paha saya di sepanjang perjalanan. saya tidak
berani bereaksi apa-apa kecuali, tsayat membuat Tante mulan tersinggung
atau disangka kurang ajar. Keluar dari kelas aerobik sekitar jam 4
sore, Tante mulan tampak segar dan bersemangat. Tubuhnya yang lembab
karena keringat membuatnya tampak lebih seksi. “Don, waktu latihan tadi
tadi punggung tante agak terkilir… kamu bisa tolong pijitin tante khan?”
katanya sambil menutup pintu mobil. “Iya… sedikit-sedikit bisa tante,”
katsaya sambil mengangguk. saya mulai merasa Tante mulan menginginkan
yang lebih jauh dari sekadar teman ngobrol dan curhat. Terus terang ini
suatu pengalaman baru bagiku dan saya tidak tahu bagaimana harus
menyikapinya. Sepanjang jalan pulang kami tidak banyak bicara, kami
sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing tentang apa yang mungkin
terjadi nanti. Setelah sampai di rumah, Tante mulan langsung mengajakku
ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamar dan kemudian Tante mulan langsung
mandi. Entah sengaja atau tidak, pintu kamar mandinya dibiarkan sedikit
terbuka. Jelas Tante mulan sudah memberiku lampu kuning untuk melsayakan
apapun yang diinginkan seorang laki-laki pada wanita. Tetapi saya masih
tidak tahu harus berbuat apa, saya hanya terduduk diam di kursi meja
rias. “Doni sayang… tolong ambilkan handuk dong…” nada suara Tante mulan
mulai manja.
Lalu kuambil handuk dari gantungan dan tanganku kusodorkan melalui pintu sambil berusaha untuk tidak melihat Tante mulan secara langsung. Sebenarnya ini tindakan bodoh, toh Tante mulan sendiri sudah memberi tanda lalu kenapa saya masih malu-malu? saya betul-betul salah tingkah. Tidak berapa lama kemudian Tante mulan keluar dari kamar mandi dengan tubuh dililit handuk dari dada sampai paha. Baru kali ini saya melihat Tante mulan dalam keadaan seperti ini, saya mulai terangsang dan sedikit bengong. Tante mulan hanya tersenyum melihat tingkah lsayaku yang serba kikuk melihat keadaannya. “Nah, sekarang kamu pijitin tante ya… ini pakai body-lotion…” katanya sambil berbaring tengkurap di tempat tidur. Dibukanya lilitan handuknya sehingga hanya tertinggal BH dan CD-nya saja. saya mulai menuangkan body-lotion ke punggung Tante mulan dan mulai memijit daerah punggungnya. “Tante, bagian mana yang sakit…” tanysaya berlagak polos. “Semuanya sayang… semuanya… dari atas sampai ke bawah. Bagian depan juga sakit lho…nanti Doni pijit ya…” kata Tante mulan sambil tersenyum nakal. saya terus memijit punggung Tante mulan, sementara itu saya merasakan kontolku mulai membesar. saya berpikir sekarang saatnya menanggapi ajakan Tante mulan dengan aktif. Seumur hidupku baru kali inilah saya berkesempatan menyetubuhi seorang wanita. Meskipun demikian dari film-film BF yang pernah kutonton sedikit banyak saya tahu apa yang harus kuperbuat… dan yang paling penting ikuti saja naluri… “Tante sayang…, tali BH-nya boleh kubuka?” katsaya sambil mengelus pundaknya.
Tante mulan menatapku sambil tersenyum dan mengangguk. saya tahu betul Tante mulan sama sekali tidak sakit ataupun cedera, acara pijat ini cuma sarana untuk mengajakku bercinta. Setelah tali BH-nya kubuka perlahan-lahan kuarahkan kedua tanganku ke-arah payudaranya. Dengan hati-hati kuremas-remas payudaranya… ahh lembut dan empuk. Tante mulan bereaksi, ia mulai terangsang dan pandangan matanya menatapku dengan sayu. Kualihkan tanganku ke bagian bawah, kuselipkan kedua tanganku ke dalam celana dalamnya sambil pelan-pelan kuremas kedua pantatnya selama beberapa saat. Tante mulan dengan pasrah membiarkan saya mengeksplorasi tubuhnya. Kini tanganku mulai berani menjelajahi juga bagian depannya sambil mengusap-usap daerah sekitar memeknya dengan lembut. Jantungku brdebar kencang, inilah pertamakalinya saya menyentuh memek wanita dewasa… Perlahan tapi pasti kupelorotkan celana dalam Tante mulan. Sekarang tubuh Tante mulan tertelungkup di tempat tidur tanpa selembar benangpun… sungguh suatu pemandangan yang indah. saya kagum sekaligus terangsang. Ingin rasanya segera menancapkan batang kemaluanku ke dalam lubang kewanitaannya. saya memejamkan mata dan mencoba bernafas perlahan untuk mengontrol emosiku. Seranganku berlanjut, kuselipkan tanganku diantara kedua pahanya dan kurasakan rambut kemaluannya yang cukup lebat. Jari tengahku mulai menjelajahi celah sempit dan basah yang ada di sana. Hangat sekali raanya. Kurasakan nafas Tante mulan mulai berat, tampaknya dia makin terangsang oleh perbuatanku. “Mmhh… Doni… kamu nakal ya…” katanya. “Tapi tante suka khan…?” “Mmhh.. terusin Don… terusin… tante suka sekali.” Jariku terus bergerilya di belahan memeknya yang terasa lembut seperti sutra, dan akhirnya ujung jariku mulai menyentuh daging yang berbentuk bulat seperti kacang tapi kenyal seperti moci Cianjur. Itu klitoris Tante mulan. Dengan gerakan memutar yang lembut kupermainkan klitorisnya dengan jariku dan diapun mulai menggelinjang keenakan. Kurasakan tubuhnya sedikit bergetar tidak teratur. Sementara itu saya juga sudah semakin terangsang, dengan agak terburu-buru pakaiankupun kubuka satu-persatu hingga tidak ada selembar benangpun menutup tubuhku, sama seperti Tante mulan. Kukecup leher Tante mulan dan dengan perlahan kubalikkan tubuhnya. Sesaat kupandangi keindahan tubuhnya yang seksi. Payudaranya cukup berisi dan tampak kencang dengan putingnya yang berwarna kecoklatan memberi pesona keindahan tersendiri. Tubuhnya putih mulus dan nyaris tanpa lemak, sungguh-sungguh Tante mulan pandai merawat tubuhnya. Diantara kedua pahanya tampak bulu-bulu kemaluan yang agak basah, entah karena baru mandi atau karena cairan lain. Sementara itu belahan memeknya samar-samar tampak di balik bulu-bulu tersebut. saya tidak habis pikir bagaimana mungkin suaminya bisa sering meninggalkannya dan mengabaikan keindahan seperti ini. “Tante seksi sekali…” katsaya terus terang memujinya. Kelihatan wajahnya langsung memerah. “Ah.. bisa aja kamu merayu tante… kamu juga seksi lho Don… lihat tuh burungmu sudah siap tempur… ayo jangan bengong gitu… terusin pijat seluruh badan tante….,” kata Tante mulan sambil tersenyum memperhatikan kontolku yang sudah mengeras dan mendongak ke atas. saya mulai menjilati payudara Tante mulan sementara itu tangan kananku perlahan-lahan mempermainkan memek dan klitorisnya. Kujilati kedua bukit payudaranya dan sesekali kuhisap serta kuemut putingnya dengan lembut sambil kupermainkan dengan lidahku. Tante mulan tampak sangat menikmati permainan ini sementara tangannya meraba dan mempermainkan kontolku. saya ingin sekali menjilati kewanitaan Tante mulan seperti dalam adegan film BF yag pernah kutonton. Perlahan-lahan saya mengubah posisiku, sekarang saya berlutut di atas tempat tidur diantara kedua kaki Tante mulan. Dengan perlahan kubuka pahanya dan kulihat belahan memeknya tampak merah dan basah.
Lalu kuambil handuk dari gantungan dan tanganku kusodorkan melalui pintu sambil berusaha untuk tidak melihat Tante mulan secara langsung. Sebenarnya ini tindakan bodoh, toh Tante mulan sendiri sudah memberi tanda lalu kenapa saya masih malu-malu? saya betul-betul salah tingkah. Tidak berapa lama kemudian Tante mulan keluar dari kamar mandi dengan tubuh dililit handuk dari dada sampai paha. Baru kali ini saya melihat Tante mulan dalam keadaan seperti ini, saya mulai terangsang dan sedikit bengong. Tante mulan hanya tersenyum melihat tingkah lsayaku yang serba kikuk melihat keadaannya. “Nah, sekarang kamu pijitin tante ya… ini pakai body-lotion…” katanya sambil berbaring tengkurap di tempat tidur. Dibukanya lilitan handuknya sehingga hanya tertinggal BH dan CD-nya saja. saya mulai menuangkan body-lotion ke punggung Tante mulan dan mulai memijit daerah punggungnya. “Tante, bagian mana yang sakit…” tanysaya berlagak polos. “Semuanya sayang… semuanya… dari atas sampai ke bawah. Bagian depan juga sakit lho…nanti Doni pijit ya…” kata Tante mulan sambil tersenyum nakal. saya terus memijit punggung Tante mulan, sementara itu saya merasakan kontolku mulai membesar. saya berpikir sekarang saatnya menanggapi ajakan Tante mulan dengan aktif. Seumur hidupku baru kali inilah saya berkesempatan menyetubuhi seorang wanita. Meskipun demikian dari film-film BF yang pernah kutonton sedikit banyak saya tahu apa yang harus kuperbuat… dan yang paling penting ikuti saja naluri… “Tante sayang…, tali BH-nya boleh kubuka?” katsaya sambil mengelus pundaknya.
Tante mulan menatapku sambil tersenyum dan mengangguk. saya tahu betul Tante mulan sama sekali tidak sakit ataupun cedera, acara pijat ini cuma sarana untuk mengajakku bercinta. Setelah tali BH-nya kubuka perlahan-lahan kuarahkan kedua tanganku ke-arah payudaranya. Dengan hati-hati kuremas-remas payudaranya… ahh lembut dan empuk. Tante mulan bereaksi, ia mulai terangsang dan pandangan matanya menatapku dengan sayu. Kualihkan tanganku ke bagian bawah, kuselipkan kedua tanganku ke dalam celana dalamnya sambil pelan-pelan kuremas kedua pantatnya selama beberapa saat. Tante mulan dengan pasrah membiarkan saya mengeksplorasi tubuhnya. Kini tanganku mulai berani menjelajahi juga bagian depannya sambil mengusap-usap daerah sekitar memeknya dengan lembut. Jantungku brdebar kencang, inilah pertamakalinya saya menyentuh memek wanita dewasa… Perlahan tapi pasti kupelorotkan celana dalam Tante mulan. Sekarang tubuh Tante mulan tertelungkup di tempat tidur tanpa selembar benangpun… sungguh suatu pemandangan yang indah. saya kagum sekaligus terangsang. Ingin rasanya segera menancapkan batang kemaluanku ke dalam lubang kewanitaannya. saya memejamkan mata dan mencoba bernafas perlahan untuk mengontrol emosiku. Seranganku berlanjut, kuselipkan tanganku diantara kedua pahanya dan kurasakan rambut kemaluannya yang cukup lebat. Jari tengahku mulai menjelajahi celah sempit dan basah yang ada di sana. Hangat sekali raanya. Kurasakan nafas Tante mulan mulai berat, tampaknya dia makin terangsang oleh perbuatanku. “Mmhh… Doni… kamu nakal ya…” katanya. “Tapi tante suka khan…?” “Mmhh.. terusin Don… terusin… tante suka sekali.” Jariku terus bergerilya di belahan memeknya yang terasa lembut seperti sutra, dan akhirnya ujung jariku mulai menyentuh daging yang berbentuk bulat seperti kacang tapi kenyal seperti moci Cianjur. Itu klitoris Tante mulan. Dengan gerakan memutar yang lembut kupermainkan klitorisnya dengan jariku dan diapun mulai menggelinjang keenakan. Kurasakan tubuhnya sedikit bergetar tidak teratur. Sementara itu saya juga sudah semakin terangsang, dengan agak terburu-buru pakaiankupun kubuka satu-persatu hingga tidak ada selembar benangpun menutup tubuhku, sama seperti Tante mulan. Kukecup leher Tante mulan dan dengan perlahan kubalikkan tubuhnya. Sesaat kupandangi keindahan tubuhnya yang seksi. Payudaranya cukup berisi dan tampak kencang dengan putingnya yang berwarna kecoklatan memberi pesona keindahan tersendiri. Tubuhnya putih mulus dan nyaris tanpa lemak, sungguh-sungguh Tante mulan pandai merawat tubuhnya. Diantara kedua pahanya tampak bulu-bulu kemaluan yang agak basah, entah karena baru mandi atau karena cairan lain. Sementara itu belahan memeknya samar-samar tampak di balik bulu-bulu tersebut. saya tidak habis pikir bagaimana mungkin suaminya bisa sering meninggalkannya dan mengabaikan keindahan seperti ini. “Tante seksi sekali…” katsaya terus terang memujinya. Kelihatan wajahnya langsung memerah. “Ah.. bisa aja kamu merayu tante… kamu juga seksi lho Don… lihat tuh burungmu sudah siap tempur… ayo jangan bengong gitu… terusin pijat seluruh badan tante….,” kata Tante mulan sambil tersenyum memperhatikan kontolku yang sudah mengeras dan mendongak ke atas. saya mulai menjilati payudara Tante mulan sementara itu tangan kananku perlahan-lahan mempermainkan memek dan klitorisnya. Kujilati kedua bukit payudaranya dan sesekali kuhisap serta kuemut putingnya dengan lembut sambil kupermainkan dengan lidahku. Tante mulan tampak sangat menikmati permainan ini sementara tangannya meraba dan mempermainkan kontolku. saya ingin sekali menjilati kewanitaan Tante mulan seperti dalam adegan film BF yag pernah kutonton. Perlahan-lahan saya mengubah posisiku, sekarang saya berlutut di atas tempat tidur diantara kedua kaki Tante mulan. Dengan perlahan kubuka pahanya dan kulihat belahan memeknya tampak merah dan basah.
Kamis, 17 Juli 2014
Aku di puasin tanteku
Pada waktu itu aku
pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam.
Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi
ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Sari,
umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum
punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya
masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan
makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku
langsung masuk ke dalam warungnya.
“Eee.. Dik Sony, mau makan ya?”
“Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?”
“Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.”
“Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas.
“Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?”
“Terserah Tante aja dech..”
“Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?”
“Mari saya bantu Tante.” Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya..
“Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..”
“Ya Tante..” jawabku. Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.
“Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?”
“Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur. Setelah sampai di pintu dapur.
“Ada apa Tante?” tanyaku.
“E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?”
“Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.
“Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam.
“Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku.
“Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..”
Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa. “Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.
“Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya.
“Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China.
“Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?”
“Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung.
“Sama-sama Tante..” kataku.
“Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya.
“Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu.
“Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Sari dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan.
“Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Sari tersenyum manis sekali dan..
“Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?”
“Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu.
“Dik Sony.. burungnya bangun ya?”
“Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..”
“Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar..”
“Dik Sony pernah ngesex belum?”
“Eee.. belum Tante..”
“Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong..”
“Akhh.. Tante jadi malu, Sony.” Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sari juga memperhatikan.
“Dik Sony, burungnya masih bangun ya?”
Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Sari mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku.
“Wow besar juga burungmu, Dik Sony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. “Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Sari sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku.
“Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Sari dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. “Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding. Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Sari menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Sari nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku. “Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!”
Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Sari, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya. “Ough Sonn.. ough..” desah Tante Sari sambil meremas-remas susunya.
“Terus Son.. Sonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila. Kemudian Tante Sari tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas.
“Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?”
“Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang,
“Aoghh..” teriak Tante Sari.
“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget.
“Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan..”
Aku masukkan kepala penisku di vaginanya.
“Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?”
” Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..”
Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Sari sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari. “Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughh..” desah Tante Sari, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Sari. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Sari. Tiba-tiba Tante Sari terduduk sambil memelukku dan mencakarku.
“Oughh Son.. ough.. luar biasa.. oughh.. Sonn..” katanya sambil merem melek.
“Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Sari.
“Dik Sony udah mau keluar ya?”
Aku menggeleng, kemudian Tante Sari terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Sari semakin mendesah, “Ough.. Sonn..” tiba-tiba Tante Sari memelukku sedikit agak mencakar punggungku. “Oughh.. Sonn.. aku keluar lagi..”
Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Sari.
“Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?”
“Terseraahh.. Soonn..” desah Tante Sari.
Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Sari, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Sari orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, “Oughh..” “Dik Sony.. Sonn.. kamu memang hebat..”
Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Sari masih tetap telanjang, terlentang di lantai.
“Dik Sony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Sari menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak.
“Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Sari sambil tersenyum genit.
Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Sari. Dunia ini memang indah.
“Tante..?”
“Eee.. Dik Sony, mau makan ya?”
“Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?”
“Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.”
“Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas.
“Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?”
“Terserah Tante aja dech..”
“Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?”
“Mari saya bantu Tante.” Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya..
“Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..”
“Ya Tante..” jawabku. Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.
“Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?”
“Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur. Setelah sampai di pintu dapur.
“Ada apa Tante?” tanyaku.
“E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?”
“Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.
“Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam.
“Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku.
“Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..”
Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa. “Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.
“Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya.
“Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China.
“Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?”
“Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung.
“Sama-sama Tante..” kataku.
“Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya.
“Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu.
Disaat
makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Sari yang telanjang. Oh,
betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi
dengan makanku. Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku
menolaknya. Tante Sari tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti
langkahnya menuju kamar mandi.
Ketika
pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan
Tante Sari mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi,
mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang
sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya,
terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus
itu. Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip
lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali. Tante Sari
tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui
kepalanya. Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak
berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana
pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD.
Kemudian
dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu. Lalu,
dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu
tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya.
Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar
50%. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Sari
meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup
rapat, mulutnya menyungging. Beberapa saat kemudian..
“Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Sari dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan.
“Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Sari tersenyum manis sekali dan..
“Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?”
“Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu.
“Dik Sony.. burungnya bangun ya?”
“Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..”
“Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar..”
“Dik Sony pernah ngesex belum?”
“Eee.. belum Tante..”
“Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong..”
“Akhh.. Tante jadi malu, Sony.” Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sari juga memperhatikan.
“Dik Sony, burungnya masih bangun ya?”
Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Sari mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku.
“Wow besar juga burungmu, Dik Sony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. “Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Sari sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku.
“Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Sari dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. “Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding. Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Sari menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Sari nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku. “Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!”
Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Sari, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya. “Ough Sonn.. ough..” desah Tante Sari sambil meremas-remas susunya.
“Terus Son.. Sonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila. Kemudian Tante Sari tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas.
“Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?”
“Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang,
vaginanya
dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian
terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya.
“Aoghh..” teriak Tante Sari.
“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget.
“Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan..”
Aku masukkan kepala penisku di vaginanya.
“Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?”
” Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..”
Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Sari sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari. “Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughh..” desah Tante Sari, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Sari. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Sari. Tiba-tiba Tante Sari terduduk sambil memelukku dan mencakarku.
“Oughh Son.. ough.. luar biasa.. oughh.. Sonn..” katanya sambil merem melek.
“Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Sari.
“Dik Sony udah mau keluar ya?”
Aku menggeleng, kemudian Tante Sari terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Sari semakin mendesah, “Ough.. Sonn..” tiba-tiba Tante Sari memelukku sedikit agak mencakar punggungku. “Oughh.. Sonn.. aku keluar lagi..”
Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Sari.
“Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?”
“Terseraahh.. Soonn..” desah Tante Sari.
Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Sari, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Sari orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, “Oughh..” “Dik Sony.. Sonn.. kamu memang hebat..”
Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Sari masih tetap telanjang, terlentang di lantai.
“Dik Sony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Sari menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak.
“Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Sari sambil tersenyum genit.
Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Sari. Dunia ini memang indah.
Nikmatnya Memek Gadis Desa
Gadis
desa yang pernah dekat dengan saya sendiri. Memang sedikit pemalu gadis
ini namun kali ini adalah sebuah pengalaman yang sangat tidak pernah q
lupakan sekali. begini mulainya, Namaku Roni, masih single, sekarang
eksekutif di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Aku mau cerita
mengenai pengalaman pertamaku berhubungan dengan seorang gadis ketika
baru naik ke kelas 3 SMA.
Dalam perbincangan dengan teman-teman sekelas terutama cowok-cowok, sering kami berbagi pengalaman seru masing-masing. Dari para sahabatku, cuma aku seorang yang masih perjaka. Yang lainnya sudah masuk golongan pemanah. Ada yang nyikat pembantunya, pacarnya, dan ada juga yang melakukannya dengan wanita pro. Sedang aku ? Pacarku seorang yang tekun menjalani agama. Kalau bertamu ke rumahnya saja selalu ada orang lain yang menemani entah ayah, ibu atau saudara kandungnya. Kesempatan yang ada cuma saat pamit ketika ia mengantarkan ke luar rumah. Itupan hanya ciuman di pipi saja. Main dengan yang pro aku tidak punya cukup keberanian. Pembantu ? Pembantuku STW berkain kebaya, dan sama sekali tidak menarik.
Suatu hari sepulang ke rumah setelah latihan band dengan teman-temanku, aku berteriak memanggil bik Minah pembantuku agar menyiapkan makanan. “Bik Minah pulang ke kampungnya, dijemput adiknya tadi pagi, karena salah satu ponakannya akan dinikahi oleh seorang cukup terpandang di desanya. Nah rupanya akan ada pesta besar-besaran di kampung. Mungkin bulan depan bik Minah baru balik, ” kata ibuku. “Tapi nggak usah khawatir, Aryani anak bik Minah yang membantu kita selama bik Minah tidak ada, kebetulan ini kan musim liburan sekolah. “
Tak lama ada seseorang yang datang membawakan makanan. Aku tidak memperhatikan karena kupikir anaknya bik Minah pasti kurang lebih sama dengan ibunya. Tapi ketika aku menoleh, ya ampun, ternyata manis juga anak ini. Kulitnya bening, wajahnya polos dengan bibir tipis agak kemerahan, rambut dikepang kuda. Ukurannya sedang-sedang saja. Mungkin kalau dipermak sedikit orang tidak akan menyangka ia cuma anak pembantu.
Tak lama ibuku berteriak dari ruang depan, mengatakan bahwa ia akan pergi ke pertemuan wanita sampai malam. Di rumah tinggal aku dan Aryani.
“Yani, sini temenin aku ngobrol sambil aku makan, ” kataku ketika melihat Aryani melintas. “Kamu sekolah kelas berapa Yan ?
“SMP kelas 3, mas. Tapi tidak tahu tahun depan apa bisa melanjutkan ke SMA, ” katanya polos.
“Di kampung sudah punya pacar apa belum ? Atau apa malah sudah dilamar ? ” tanyaku lagi.
“Belum mas, sungguh !” jawab Aryani. “Kalau mas sendiri, pasti sudah punya pacar ya ?”
“Gadis kota mana mau sama aku, Ya ? ” kataku mulai mengeluarkan rayuan gombal. “Lagipula aku sukanya gadis yang masih polos seperti kamu. “
“Ah mas, bisa saja, ” katanya malu-malu, “Aku kan cuma anak seorang pembantu. “
“Yan, aku sudah selesai makan. Nanti setelah beres-beres kamu temenin aku ke ruang atas ya. Soalnya aku kesepian, bapak dan ibu baru pulang malam hari, ” kataku sambil bergegas naik ke lantai atas sambil mikir gimana ya bisa ngadalin si Aryani.
Kutunggu-tunggu Aryani tidak naik-naik ke lantai atas. Akhirnya dia datang juga, rupanya habis mandi, karena tercium wangi sabun luks. Segera kusuruh ia duduk menemaniku nonton VCD. Sengaja kuputar film pinjeman temanku yang biasanya kuputar kalau bapak/ ibu tidak di rumah. Kupilih yang tidak terlalu vulgar, supaya Aryani jangan sampai kaget melihatnya. Adegan yang ada paling cuma percintaan sampai di ranjang tanpa memperlihatkan dengan detail.
Rupanya adegan-adegan itu membuat Aryani terpengaruh juga, duduknya jadi tidak bisa diam. “Mas. sudah ya nontonnya, aku mau ke bawah, ” katanya.
“Tunggu dulu, Yan, aku mau ngomong, ” kataku yang telah dapat ide untuk menjeratnya, “Kamu takut tidak bisa melanjutkan sekolah apa karena biaya ? Kalau cuma itu, soal sepele, aku akan membantumu, asal …”
“Asal apa mas, ” katanya bersemangat.
“Asal kamu mau membantu aku juga, ” kataku sambil pindah ke dekatnya. Segera kuraih tangannya, kupeluk dan kucium bibirnya. Aryani sangat kaget dan segera berontak sambil menangis.
“Yani, kamu pikir aku akan memperkosamu ? ” kataku lembut. “Aku cuma mau supaya kamu bersedia menjadi pacarku. “
Ia membelalak tidak percaya. Sebelum ia sempat mngucapkan apa-apa kuserbu lagi, tapi kali dengan lebih lembut kukecup keningnya, lalu bibirnya. Kugigit telinganya, dan kuciumi lehernya. Aryani terengah-engah terbawa kenikmatan yang belum pernah dialami sebelumnya. Ingin rasanya segera kurebahkan dan kutiduri, tapi akal sehatku mengatakan jangan terburu-buru. Menikmati kopi panas harus ditiup-tiup dulu sebelum direguk. Kalau langsung bisa lidah terbakar dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa.
Perlahan-lahan dari menciumi lehernya aku turun ke bagian atas dadanya, dan kubuka kancing dasternya dari belakang tanpa setahunya. Tetapi ketika akan kuturnkan dasternya ia tersadar dan mau protes. Segera kubuka baju kaos t-shirt ku sambil mengatakan udara sangat panas. Ia tersipu melihat dadaku yang bidang, hasil rajin fitness. “Yan kamu curang sudah lihat dadaku, sekarang biar impas aku juga mau lihat kamu punya dong. “
“Ah jangan mas, malu, ” katanya sambil memegang erat bagian depan dasternya.
“Bajunya doang yang dibuka, Yan. kalau malu behanya nggak usah, ” kataku sambil menyerbunya lagi dengan ciuman. Yani tergagap dan kurang siap dengan serbuanku sehingga aku berhasil membuka dasternya. Segera kuciumi bagian seputar payudaranya yang masih tertutup beha berwarna hitam.
“Aduh mas, mhm, enak sekali, ” katanya sambil menggelinjang. Tangankupun bergerilya membuka pengait behanya.
Tetapi ketika kulepaskan ciumanku karena hendak membuka behanya ia kembali tersadar dan protes, ” lho mas janjinya behanya tidak dibuka, ”
Tanpa menjawab segera kuserbu payudaranya yang tidak besar tetapi sangat indah bentuknya, dengan puting yang kecil berwarna coklat muda. Kukulum payudara kanannya sambil kuemut-emut. Ia tidak dapat berkata-kata tetapi menjerit-jerit keenakan. Terdengar alunan suara erangan yang indah, ” mph, ehm, ahhh, ‘ dari bibirnya yang mungil. Jemariku segera mulai menjelajah selangkangannya yang masih tertutup CD yang juga berwarna hitam. Rupanya hebat sekali rangsangan demi rangsangan yang Ayryani terima sehingga mulai keluar cairan dari MQ-nya yang membasahi CDnya.
“Oh mas, oh mas, mph, enak sekali, ” lenguhnya. Tanpa disadarinya jariku sudah menyelinap ke balik CD-nya dan mulai menari-nari di celah kewanitaannya. Jariku berhasil menyentuh klitorisnya dan terus kuputar-putar, membuatnya badannya gemetaran merasakan kenikmatan yang amat sangat. Sengaja tidak kucolok, karena itu bukan bagian jariku tetapi adik kecilku nanti.
“Ahhh !” jerit Aryani, dibarengi tubuhnya yang mengejang. Rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Tak lama tubuhnya melemas, setelah mengalami kenikmatan pertama kali dalam hidupnya. Ia terbaring di sofa dengan setengah telanjang, hanya sebuah CD yang menutupi tubuhnya.
Segera aku berdiri dan melepaskan celana panjang serta CD-ku, pikirku ia masih lemas, pasti tidak akan banyak protes. “Lho mas, kok mas telanjang. Jangan mas, jangan sampai terlalu jauh, ” katanya sambil berusaha untuk duduk. “
“Yan, kamu itu curang sekali. Kamu sudah merasakan kenikmatan, aku belum. kamu sudah melihat seluruh tubuhku, aku cuma bagian atas saja, ” kataku sambil secepat kilat menarik cd-nya.
“Mas, jangan ! ” protesnya sambil mau memertahankan CD-nya, tetapi ternyata kalah tangkas dengan kecepatan tanganku yang berhasil melolosi CD-nya dari kedua kakinya. Terlihatlah pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat langsung. MQ-nya masih terkatup, dan baru ditumbuhi sedikit bulu-bulu jarang. Adik kecilku langsung membesar dan mengeras
Segera kuciumi bibirnya kembali dan kulumat payudaranya. Aryani kembali terangsang. Lalu sambil kuciumi lehernya Kunaiki tubuhnya. Kubuka kedua kakinya dengan kedua kakiku, “mas, jangan, oh !” katanya. Tetapi tanpa memperdulikan protesnya kulumat bibirnya agar tidak dapat bersuara. Perlahan-lahan torpedoku mulai mencari sasarannya. Ah, ternyata susah sekali memasukkan burung peliaraanku ke sangkarnya yang baru. Bolak-balik meleset dari sasarannya. Aku tidak tahu pasti di mana letaknya sang lubang kenikmatan.
“Mas, jangan, aku masih perawan, ” protes Aryani ketika berhasil melepaskan bibirnya dari ciumanku.
“Jangan takut sayang, aku cuma gesek-gesek di luar saja, ” kataku ngegombal sambil memegang torpedo dan mengarahkannya ke celah yang sangat sempit.
Ketika tepat di depan gua kewanitaannya, kutempelkan dan kusegesk-gesek sambil juga kuputar-putar di dinding luar MQ-nya. “Mas, mas, mphm, oh, uenak sekali, ” katanya penuh kenikmatan. Kurasakan cairan pelumasnya mulai keluar kembali dan membasahi helmku.
Lalu mulai kepala helmku sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam MQ-nya dengan menyodoknya perlahan-lahan, “Aw mas, sakit ! Tadi katanya tidak akan dimasukkan, ” protes Aryani, ketika kepala helmku mulai agak masuk. “Nggak kok, ini masih di luar. Udah nggak usah protes, nikmatin aja, Yan !” kataku setengah berbohong sambil terus bekerja.
Sempit sekali lubangnya si Yani, sehingga susah bagiku untuk memasukkan torpoedoku seluruhnya. Wah kalau begini terus, jangan-jangan si otong sudah muntah duluan di luar, pikirku. Sambil sedikit demi sedikit memaju-mundurkan torpedoku, kugigiti telinganya dengan gigitan kecil-kecil. Tiba-tiba kugigit telinganya agak keras, Yani terpekik, “Aw !” Saat itu dengan sekuat tenagaku kusodok torpedoku yang berhasil tenggelam semuanya di MQ-nya Aryani.
Gerakan pantatku semakin menggila memaju-mundurkan torpedoku di dalam MQ Aryani. Tetapi tidak kutarik sampai kelaut, takut susah lagi memasukkannya. Rupanya rasa sakit yang dialami Aryani tergantikan dengan rasa nikmat. Yang keluar dari bibir mungilnya hanyalah suara ah, uh, ah, uh setiap kali ku maju mundurkan torpedoku, menandakan ia sangat menikmati pengalaman baru ini.
Torpedoku semakin menegang. Keringat bercucuran dari tubuhku, Akupun melngalami kenikmatan yang selama ini hanya kuimpikan. Sekitar selangkanganku terasa ngilu. Rupanya aku sudah mendekati klimaks. Gerakan pantatku semakin cepat, terasa jepitan MQ perawan desa ini semakin kencang juga. Empuk sekali rasanya setiap kali torpedoku terbenam di dalamnya. Terasa hampir meledak torpedoku, siap memuntahkan lahar panasnya ke dalam surga kenikmatan Aryani. Dengan sekut tenaga kubenamkan torpedoku sedalam-dalamnya dan crot, crot, cort ! Air maniku muncrat ke dalam rahim Aryani, Terdengar lenguhan panjang dari bibir mungil Aryani. Rupanya kami mencapai orgasme bersamaan. Tubuhkupun jatuh terbaring di atas tubuhnya penuh dengan kenikmatan. Kami berdua terbaring tak berdaya. Tubuh lemas, tetapi masih terasa kenikmatan yang sampai ke ubun-bubun.
Dalam perbincangan dengan teman-teman sekelas terutama cowok-cowok, sering kami berbagi pengalaman seru masing-masing. Dari para sahabatku, cuma aku seorang yang masih perjaka. Yang lainnya sudah masuk golongan pemanah. Ada yang nyikat pembantunya, pacarnya, dan ada juga yang melakukannya dengan wanita pro. Sedang aku ? Pacarku seorang yang tekun menjalani agama. Kalau bertamu ke rumahnya saja selalu ada orang lain yang menemani entah ayah, ibu atau saudara kandungnya. Kesempatan yang ada cuma saat pamit ketika ia mengantarkan ke luar rumah. Itupan hanya ciuman di pipi saja. Main dengan yang pro aku tidak punya cukup keberanian. Pembantu ? Pembantuku STW berkain kebaya, dan sama sekali tidak menarik.
Suatu hari sepulang ke rumah setelah latihan band dengan teman-temanku, aku berteriak memanggil bik Minah pembantuku agar menyiapkan makanan. “Bik Minah pulang ke kampungnya, dijemput adiknya tadi pagi, karena salah satu ponakannya akan dinikahi oleh seorang cukup terpandang di desanya. Nah rupanya akan ada pesta besar-besaran di kampung. Mungkin bulan depan bik Minah baru balik, ” kata ibuku. “Tapi nggak usah khawatir, Aryani anak bik Minah yang membantu kita selama bik Minah tidak ada, kebetulan ini kan musim liburan sekolah. “
Tak lama ada seseorang yang datang membawakan makanan. Aku tidak memperhatikan karena kupikir anaknya bik Minah pasti kurang lebih sama dengan ibunya. Tapi ketika aku menoleh, ya ampun, ternyata manis juga anak ini. Kulitnya bening, wajahnya polos dengan bibir tipis agak kemerahan, rambut dikepang kuda. Ukurannya sedang-sedang saja. Mungkin kalau dipermak sedikit orang tidak akan menyangka ia cuma anak pembantu.
Tak lama ibuku berteriak dari ruang depan, mengatakan bahwa ia akan pergi ke pertemuan wanita sampai malam. Di rumah tinggal aku dan Aryani.
“Yani, sini temenin aku ngobrol sambil aku makan, ” kataku ketika melihat Aryani melintas. “Kamu sekolah kelas berapa Yan ?
“SMP kelas 3, mas. Tapi tidak tahu tahun depan apa bisa melanjutkan ke SMA, ” katanya polos.
“Di kampung sudah punya pacar apa belum ? Atau apa malah sudah dilamar ? ” tanyaku lagi.
“Belum mas, sungguh !” jawab Aryani. “Kalau mas sendiri, pasti sudah punya pacar ya ?”
“Gadis kota mana mau sama aku, Ya ? ” kataku mulai mengeluarkan rayuan gombal. “Lagipula aku sukanya gadis yang masih polos seperti kamu. “
“Ah mas, bisa saja, ” katanya malu-malu, “Aku kan cuma anak seorang pembantu. “
“Yan, aku sudah selesai makan. Nanti setelah beres-beres kamu temenin aku ke ruang atas ya. Soalnya aku kesepian, bapak dan ibu baru pulang malam hari, ” kataku sambil bergegas naik ke lantai atas sambil mikir gimana ya bisa ngadalin si Aryani.
Kutunggu-tunggu Aryani tidak naik-naik ke lantai atas. Akhirnya dia datang juga, rupanya habis mandi, karena tercium wangi sabun luks. Segera kusuruh ia duduk menemaniku nonton VCD. Sengaja kuputar film pinjeman temanku yang biasanya kuputar kalau bapak/ ibu tidak di rumah. Kupilih yang tidak terlalu vulgar, supaya Aryani jangan sampai kaget melihatnya. Adegan yang ada paling cuma percintaan sampai di ranjang tanpa memperlihatkan dengan detail.
Rupanya adegan-adegan itu membuat Aryani terpengaruh juga, duduknya jadi tidak bisa diam. “Mas. sudah ya nontonnya, aku mau ke bawah, ” katanya.
“Tunggu dulu, Yan, aku mau ngomong, ” kataku yang telah dapat ide untuk menjeratnya, “Kamu takut tidak bisa melanjutkan sekolah apa karena biaya ? Kalau cuma itu, soal sepele, aku akan membantumu, asal …”
“Asal apa mas, ” katanya bersemangat.
“Asal kamu mau membantu aku juga, ” kataku sambil pindah ke dekatnya. Segera kuraih tangannya, kupeluk dan kucium bibirnya. Aryani sangat kaget dan segera berontak sambil menangis.
“Yani, kamu pikir aku akan memperkosamu ? ” kataku lembut. “Aku cuma mau supaya kamu bersedia menjadi pacarku. “
Ia membelalak tidak percaya. Sebelum ia sempat mngucapkan apa-apa kuserbu lagi, tapi kali dengan lebih lembut kukecup keningnya, lalu bibirnya. Kugigit telinganya, dan kuciumi lehernya. Aryani terengah-engah terbawa kenikmatan yang belum pernah dialami sebelumnya. Ingin rasanya segera kurebahkan dan kutiduri, tapi akal sehatku mengatakan jangan terburu-buru. Menikmati kopi panas harus ditiup-tiup dulu sebelum direguk. Kalau langsung bisa lidah terbakar dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa.
Perlahan-lahan dari menciumi lehernya aku turun ke bagian atas dadanya, dan kubuka kancing dasternya dari belakang tanpa setahunya. Tetapi ketika akan kuturnkan dasternya ia tersadar dan mau protes. Segera kubuka baju kaos t-shirt ku sambil mengatakan udara sangat panas. Ia tersipu melihat dadaku yang bidang, hasil rajin fitness. “Yan kamu curang sudah lihat dadaku, sekarang biar impas aku juga mau lihat kamu punya dong. “
“Ah jangan mas, malu, ” katanya sambil memegang erat bagian depan dasternya.
“Bajunya doang yang dibuka, Yan. kalau malu behanya nggak usah, ” kataku sambil menyerbunya lagi dengan ciuman. Yani tergagap dan kurang siap dengan serbuanku sehingga aku berhasil membuka dasternya. Segera kuciumi bagian seputar payudaranya yang masih tertutup beha berwarna hitam.
“Aduh mas, mhm, enak sekali, ” katanya sambil menggelinjang. Tangankupun bergerilya membuka pengait behanya.
Tetapi ketika kulepaskan ciumanku karena hendak membuka behanya ia kembali tersadar dan protes, ” lho mas janjinya behanya tidak dibuka, ”
Tanpa menjawab segera kuserbu payudaranya yang tidak besar tetapi sangat indah bentuknya, dengan puting yang kecil berwarna coklat muda. Kukulum payudara kanannya sambil kuemut-emut. Ia tidak dapat berkata-kata tetapi menjerit-jerit keenakan. Terdengar alunan suara erangan yang indah, ” mph, ehm, ahhh, ‘ dari bibirnya yang mungil. Jemariku segera mulai menjelajah selangkangannya yang masih tertutup CD yang juga berwarna hitam. Rupanya hebat sekali rangsangan demi rangsangan yang Ayryani terima sehingga mulai keluar cairan dari MQ-nya yang membasahi CDnya.
“Oh mas, oh mas, mph, enak sekali, ” lenguhnya. Tanpa disadarinya jariku sudah menyelinap ke balik CD-nya dan mulai menari-nari di celah kewanitaannya. Jariku berhasil menyentuh klitorisnya dan terus kuputar-putar, membuatnya badannya gemetaran merasakan kenikmatan yang amat sangat. Sengaja tidak kucolok, karena itu bukan bagian jariku tetapi adik kecilku nanti.
“Ahhh !” jerit Aryani, dibarengi tubuhnya yang mengejang. Rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Tak lama tubuhnya melemas, setelah mengalami kenikmatan pertama kali dalam hidupnya. Ia terbaring di sofa dengan setengah telanjang, hanya sebuah CD yang menutupi tubuhnya.
Segera aku berdiri dan melepaskan celana panjang serta CD-ku, pikirku ia masih lemas, pasti tidak akan banyak protes. “Lho mas, kok mas telanjang. Jangan mas, jangan sampai terlalu jauh, ” katanya sambil berusaha untuk duduk. “
“Yan, kamu itu curang sekali. Kamu sudah merasakan kenikmatan, aku belum. kamu sudah melihat seluruh tubuhku, aku cuma bagian atas saja, ” kataku sambil secepat kilat menarik cd-nya.
“Mas, jangan ! ” protesnya sambil mau memertahankan CD-nya, tetapi ternyata kalah tangkas dengan kecepatan tanganku yang berhasil melolosi CD-nya dari kedua kakinya. Terlihatlah pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat langsung. MQ-nya masih terkatup, dan baru ditumbuhi sedikit bulu-bulu jarang. Adik kecilku langsung membesar dan mengeras
Segera kuciumi bibirnya kembali dan kulumat payudaranya. Aryani kembali terangsang. Lalu sambil kuciumi lehernya Kunaiki tubuhnya. Kubuka kedua kakinya dengan kedua kakiku, “mas, jangan, oh !” katanya. Tetapi tanpa memperdulikan protesnya kulumat bibirnya agar tidak dapat bersuara. Perlahan-lahan torpedoku mulai mencari sasarannya. Ah, ternyata susah sekali memasukkan burung peliaraanku ke sangkarnya yang baru. Bolak-balik meleset dari sasarannya. Aku tidak tahu pasti di mana letaknya sang lubang kenikmatan.
“Mas, jangan, aku masih perawan, ” protes Aryani ketika berhasil melepaskan bibirnya dari ciumanku.
“Jangan takut sayang, aku cuma gesek-gesek di luar saja, ” kataku ngegombal sambil memegang torpedo dan mengarahkannya ke celah yang sangat sempit.
Ketika tepat di depan gua kewanitaannya, kutempelkan dan kusegesk-gesek sambil juga kuputar-putar di dinding luar MQ-nya. “Mas, mas, mphm, oh, uenak sekali, ” katanya penuh kenikmatan. Kurasakan cairan pelumasnya mulai keluar kembali dan membasahi helmku.
Lalu mulai kepala helmku sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam MQ-nya dengan menyodoknya perlahan-lahan, “Aw mas, sakit ! Tadi katanya tidak akan dimasukkan, ” protes Aryani, ketika kepala helmku mulai agak masuk. “Nggak kok, ini masih di luar. Udah nggak usah protes, nikmatin aja, Yan !” kataku setengah berbohong sambil terus bekerja.
Sempit sekali lubangnya si Yani, sehingga susah bagiku untuk memasukkan torpoedoku seluruhnya. Wah kalau begini terus, jangan-jangan si otong sudah muntah duluan di luar, pikirku. Sambil sedikit demi sedikit memaju-mundurkan torpedoku, kugigiti telinganya dengan gigitan kecil-kecil. Tiba-tiba kugigit telinganya agak keras, Yani terpekik, “Aw !” Saat itu dengan sekuat tenagaku kusodok torpedoku yang berhasil tenggelam semuanya di MQ-nya Aryani.
Gerakan pantatku semakin menggila memaju-mundurkan torpedoku di dalam MQ Aryani. Tetapi tidak kutarik sampai kelaut, takut susah lagi memasukkannya. Rupanya rasa sakit yang dialami Aryani tergantikan dengan rasa nikmat. Yang keluar dari bibir mungilnya hanyalah suara ah, uh, ah, uh setiap kali ku maju mundurkan torpedoku, menandakan ia sangat menikmati pengalaman baru ini.
Torpedoku semakin menegang. Keringat bercucuran dari tubuhku, Akupun melngalami kenikmatan yang selama ini hanya kuimpikan. Sekitar selangkanganku terasa ngilu. Rupanya aku sudah mendekati klimaks. Gerakan pantatku semakin cepat, terasa jepitan MQ perawan desa ini semakin kencang juga. Empuk sekali rasanya setiap kali torpedoku terbenam di dalamnya. Terasa hampir meledak torpedoku, siap memuntahkan lahar panasnya ke dalam surga kenikmatan Aryani. Dengan sekut tenaga kubenamkan torpedoku sedalam-dalamnya dan crot, crot, cort ! Air maniku muncrat ke dalam rahim Aryani, Terdengar lenguhan panjang dari bibir mungil Aryani. Rupanya kami mencapai orgasme bersamaan. Tubuhkupun jatuh terbaring di atas tubuhnya penuh dengan kenikmatan. Kami berdua terbaring tak berdaya. Tubuh lemas, tetapi masih terasa kenikmatan yang sampai ke ubun-bubun.
Langganan:
Komentar (Atom)




























